Minggu, 13 Oktober 2019

REVIEW JURNAL 

OKTOBER 12,2019

NAMA                : WAHYU HARVAIN BRAHMANA

MATA KULIAH : SEJARAH ASIA (A)


DINAMIKA PERKEMBANGAN INDUSTRI BESAR DI CHINA TAHUN 1998-2012

 

 Oleh :Muhammad Abipragolo Wijayanto
    Kajian Jurnal: Geografi
    Reviewer : Wahyu Harvain Brahmana
    Nama jurnal : Perdagangan dan industri.                                dalam pembangunan
    Tahun terbit jurnal : 2014
    

PENDAHULUAN


 Industri memegang peran penting dalam pembangunan ekonomi di sebuah negara karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sektor lain, di antaranya: nilai kapitalisasi modal yang tertanam sangat besar, kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar, dan kemampuan menciptakan nilai tambah (value added) dari setiap pemasukan atau bahan dasar yang diolah (Schey, 2000). Jumlah dan macam industri setiap negara berbeda-beda. Semakin maju tingkat perkembangan industri suatu negara, semakin banyak jumlah dan macam industrinya, serta semakin kompleks pula sifat kegiatan dan usaha tersebut (Turner, 1993). Menurut Djojohadikusumo (1985), perdagangan dan industri dapat mengambil peran pokok dalam pembangunan ekonomi suatu negara; ditandai oleh proses perubahan struktural yakni suatu perubahan dalam struktur ekonomi masyarakat. Proses perubahan yang dimaksud adalah produksi di sektor sekunder (industri manufaktur) beserta produksi di sektor tersier (sektor jasa yang di antaranya meliputi kegiatan perdagangan) semakin meningkat dan meluas dibanding dengan perkembangan di sektor primer (pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan). Hal ini terjadi di beberapa negara maju, di mana industri manufaktur menjadi bagian yang mendominasi aktivitas sektor industri dan menjadi sektor potensial dalam menunjang sektor pertanian, pertambangan, infrastruktur, dan sektor keuangan. Oleh karena itu, industri telah menempatkan diri sebagai tumpuan, harapan, dan motor penggerak sektor lainnya; yang tentunya harus ditunjang oleh sektor perdagangan yang stabil. China saat ini telah menjelma menjadi sebuah negara besar dengan sektor industri yang merajai kawasan negara-negara berkembang di Asia Tenggara bahkan dunia. Hal tersebut ditunjukkan dengan membanjirnya produk-produk industri dari China, mulai dari yang sederhana (mainan anak-anak, peralatan rumah tangga) sampai yang berteknologi tinggi (sepeda motor, mesin-mesin otomatis, smartphone, dan sebagainya). Harga barang produk China yang cukup murah dan pasar yang besar, memberikan andil bagi pesatnya perekonomian sehingga saat ini terjadi aliran arus modal industri yang cukup deras ke China (Zaenurrofik, 2008). 


HASIL DAN PEMBAHASAN

 Tingkat Perkembangan Industri
Untuk mengetahui tingkat perkembangan industri besar negara China dari tahun 1998-2012, dapat diukur menggunakan beberapa indikator. Adapun indikator yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui perkembangan industri tersebut meliputi: (a) jumlah perusahaan yang bergerak di bidang industri; (b) jumlah tenaga kerja industri; dan (c) nilai tambah (value added) industri. Di zaman modern ini, suatu negara menjadikan perusahaan industri sebagai andalan atau penopang untuk mendorong kemajuan negara, karena semakin maju dan berkembangnya perusahaan industri, menjadikan suatu negara dapat menguasai perekonomian dan perdagangan Dunia. Perkembangan jumlah perusahaan yang bergerak di bidang industri di China pada tahun penelitian dilakukan. Pada awal perkembangannya yaitu pada tahun 1998 jumlah perusahaan mengalami penurunan 64,76 persen yang disebabkan krisis moneter, tahun 1999 China belum mampu bangkit karena masih mengalami penurunan sebesar -1,85 persen, lalu pada tahun 2000 China mulai mengalami kenaikan yang signifikan dengan rata-rata 10,07 persen sampai tahun 2010, namun pada tahun 2011 sekali lagi terjadi penurunan sebesar -28,10 persen karena dampak krisis hutang dieropa. Tahun 2012 China mulai mengalami kenaikan lagi sampai 5,58 persen. Untuk mengetahui jumlah rata-rata, dimana untuk melihat provinsi mana saja yang mendominasi perusahaan industri secara terperinci, serta untuk melihat perkembangan rata-rata perusahaan industri setiap provinsi, maka dibuatlah klasifikasi pada masing-masing provinsi, dimana perkembangan perusahaan industri digolongkan menjadi klas tinggi, sedang dan rendah.  Tenaga kerja dalam penelitian ini merupakan salah satu indikator lainya dimana untuk mengetahui sejauh mana perkembangan industri besar di China pada tahun penelitian. Adanya suatu perusahaan industri tidak lepas yang namanya tenaga kerja, dalam menjalankan sebuah kegiatan industri dibutuhkan adanya manusia atau tenaga kerja untuk mengoperasikannya. Perkembangan tenaga kerja industri di China pada tahun penelitian dilaksanakan. Pada pada awal penelitian, yaitu pada tahun 1998 jumlah tenaga kerja industri mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, hal itu berlanjut sampai tahun 2003 dengan rata-rata penurunan -8,09 persen, lalu pada tahun 2004, China mulai mengalami kenaikan sampai tahun 2006 dengan rata-rata 4,47 persen dan memasuki tahun 2007 sekali lagi terjadi penurunan sebesar -0,08 persen, hal tersebut diakibatkan karena pada tahun tersebut   sedang  terjadi  kesenjangan sosial pada rakyat China, namun pada tahun berikutnya sampai batas penelitian tahun 2012, tenaga kerja industri di China selalu selalu mengalami kenaikan dengan rata-rata 4,67 persen. Untuk mengetahui perkembangan rata-rata tenaga kerja industri setiap provinsi, maka dibuatlah klasifikasi pada masing-masing provinsi di China, dimana perkembangan tenaga kerja industri digolongkan menjadi klas tinggi; sedang; dan rendah 

KESIMPULAN

Pertama, perkembangan industri besar menunjukkan―pada awalnya, tahun 1998 China belum mampu bangkit dari krisis keuangan yang melanda sebagian besar negara Asia, namun kemudian perlahan sampai akhir 2012, sektor industri mengalami peningkatan secara bertahap ―meskipun dalam beberapa tahun tertentu masih mengalami penurunan. Hal tersebut tidak lepas dari peran pemerintah China dalam mengambil kebijakan, adapun peran pemerintah China dalam mengambil kebijakan dapat dikatakan berhasil, yang diantaranya sebagai berikut; dimulai pada awal tahun 1998 ketika pasca krisis finansial, Presiden Jiang Zeming berusaha keras membuat kebijakan dengan mengumumkan bahwa perusahaan yang bergerak dibidang industri milik negara akan dijual kepada swasta. Memasuki tahun 2001 China mulai bergabung dengan organisasi dunia WTO (World Trade Organization). Tahun 2002 China mempunyai inisiatif untuk merangkul semua negara-negara ASEAN dengan membentuk organisasi internasional yang bernama ACFTA (Asean China Free Trade Agreement). Di tahun 2003 pemerintah China melakukan sidang pleno ke 3 PKC, legeslatif China mengajukan amandemen bagi konstitusi (UU) negara untuk melakukan industrialisasi terencana dan menekan jumlah pengangguran.  Pada tahun 2004, Presiden Hu dalam pemerintahannya telah menyetujui ribuan investasi perusahaan asing untuk menggerakkan mesin perekonomiannya. Tahun 2005, pemerintah China menyetujui Program Ekonomi Lima Tahun ke-11 (20062010), rencana tersebut bertujuan untuk membangun masyarakat yang harmonis. Di tahun 2007 pemerintah China mengeluarkan kebijakan yang memprioritaskan pada pembagian gaji tenaga kerja, untuk menanggulang kesenjangan. Memasuki tahun 2008, Olimpiade di Beijing merupakan semangat kuat bagi negara China untuk menunjukan diri pada negara di dunia yang siap bersaing di abad 21 ini, sehingga Olimpiade menjadi prioritas utama pada tahun tersebut. Pada tahun 2011, pemerintah China kembali melakukan serangkaian langkah untuk mendukung ekspor seperti meningkatkan potongan pajak ekspor dan menyediakan pendanaan perdaganagan untuk industri, dimana saat itu sedang terjadi krisis di Eropa yang berdampak pada kegiatan ekspor China.  Kedua, pola konsentrasi keruangan industri besar di China tahun 1998-2012 diketahui bahwa terdapat konsentrasi keruangan industri tinggi, dimana provinsi Zhejiang, Jiangsu, Guangdong dan Shandong selalu mendominasi dengan menempati hierarki tinggi. Dilihat dari lokasi provinsi yang terkonsentrasi tinggi tersebut, provinsi-provinsi tersebut berada pada bagian timur negara China, dimana terletak pada daerah pesisir yang berpotensi besar pada daerah pelabuhan yang terikat erat dengan sistem perdagangan global. Pesisir di daerah China memiliki keunggulan geografis dalam menarik perkembangan perusahaanperusahaan. Temuan ini tidak hanya mendukung teori geografi ekonomi baru dengan bukti di China, tetapi juga menekankan peran penting bahwa kebijakan itu sendiri mungkin akan langsung bermain di aglomerasi industri. 

KEKURANGAN

2. akan lebih baik apabila di sertakan tabel 
3. beberapa penggunaan bahasa yang sulit di mengerti

KELEBIHAN

1. Penjelasan yang rinci dan tertata dengan rapi
2. Secara keseluruhan penggunan tulisan dan maksud yang di sampaikan dapat di mengerti dengan mudah

 

3 komentar:

  1. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana kualitas SDM masyarakat China, karena majunya sebuah negara tidak terlepas dari kualitas SDM sendiri
    Terimakasih

    BalasHapus
  2. Tuntutan dari Perkembangan negara China di bidang industri mengharuskan setiap masyarakat china memiliki kualitas dan keahlian dan keuletan di bidang industri demi meningkatkan kesejahtraan hidup masyrakat china itu sendiri

    BalasHapus
  3. Dari kinerja masyarakat Cina yang lebih Kapitalis, lantas apa yang membuat mereka (masyarakat Cina) lebih semangat ? kenapa semangat tersebut belum bisa memberikan pengaruh pada masyarakat Indonesia ? terimakasih

    BalasHapus