Rabu, 30 Oktober 2019

Review Jurnal Analisis Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Desa Cihideung sebagai Desa Wisata 


Judul : Analisis Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Desa Cihideung sebagai Desa Wisata 
Nama Jurnal : Perspektif tentang Perubahan Sosial
Volume dan Halaman:  Vol. 5, No. 2 
Tahun : 2017
Penulis : Hanifah Gunawan
Reviewer : wahyu Brahmana
Tanggal : 29 oktober 2019

ABSTRAK 

Penelitian ini dilakukan di Desa Cihideung yang mengalami perubahan sosial budaya dari desa yang didominasi oleh pertanian sawah dan sayuran menjadi desa wisata yang didominasi oleh berbagai macam pembangunan objek pariwisata beserta sarana pendukung lainnya yang dimiliki oleh para investor. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Perubahan sosial budaya yang terjadi antara lain: 1) Berkurangnya interaksi sosial; 2) Berkurangnya solidaritas sosial; 3) Proses sosialisasi dipengaruhi oleh unsur dari luar masyarakat Desa Cihideung; 4) Berkurangnya pengawasan sosial serta kepedulian; 4) Menghilangnya adat istiadat; 5) Meningkatnya eksistensi kesenian tradisional; 6) Mata pencaharian yang menjadi heterogen; 7) Terjadinya mobilitas sosial. 

PEMBAHASAN

KONDISI MASYARAKAT DESA CIHIDEUNG SEBELUM MENGALAMI PERUBAHAN DARI KAWASAN PERTANIAN MENJADI DESA WISATA

Kondisi masyarakat Desa Cihideung sebelum mengalami perubahan dapat diidentifikasi melalui hal-hal berikut ini :
A. Pemanfaatan lahan didominasi oleh masyarakat Desa Cihideung dalam bidang pertanian
B. Rendahnya jumlah penduduk (9038 jiwa) sehingga tidak terjadi kepadatan penduduk
C. Mayoritas mata pencaharian sebagai petani (sebesar 87%)
D. Rendahnya tingkat pendidikan (kualitas dan kuantitas pendidikan di Desa Cihideung pun kurang memadai)
E. Interaksi sosial yang kuat (gotong royong, kerja sama, musyawarah, saling sapa, sopan santun)
F. Proses sosialisasi unsurunsur masyarakat pedesaan
G. Memegang teguh normanorma sosial (norma agama, norma kesopanan)
H. Sikap hidup yang sederhana
I. Rendahnya mobilitas sosial baik vertikal karena minimnya kualitas sumber daya manusia dan horizontal karena
J. Teknologi tepat guna dengan cara memanfaatkan sumber daya lingkungan Desa Cihideung

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA YANG TERJADI PADA MASYARAKAT DESA CIHIDEUNG SEBAGAI DESA WISATA.

Pada awalnya masyarakat Desa Cihideung merupakan desa yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani palawija maupun petani sawah, namun pada saat terjadinya pembebasan lahan masyarakat Desa Cihideung mulai berubah profesi menjadi petani bunga potong maupun bibit bunga. Mulai pada saat itulah awal Desa Cihideung dinobatkan sebagai desa agrowisata. Pembangunan berbagai macam objek pariwisata serta sarana pendukungnya menyebabkan terjadinya perubahan sosial budaya pada masyarakat Desa Cihideung Perubahan tersebut dapat diidentifikasi melalui beberapa hal diantaranya yaitu :
A. Berkurangnya lahan pertanian karena banyak dibangun objek pariwisata
B. Meningkatnya jumlah penduduk karena banyaknya pendatang
C. Mata pencaharian menjadi heterogen karena mulai banyak lapangan pekerjaan non pertanian.
D. Meningkatnya tingkat pendidikan karena tersedianya kualitas dan kuantitas Sekolah di Desa Cihideung serta para orang tua sudah menyekolahkan anaknya untuk bisa mendapatkan pekerjaan.
E. Berkembangnya teknologi modern yang membantu kegiatan masyarakat Desa Cihideung salah satunya adalah telepon genggam, laptop, komputer, warnet dan jaringan internet
F. Berkurangnya interaksi sosial.
G. Memudarnya solidaritas sosial karena adanya pendatang serta wisatawan
H. Meningkatkan eksistensi kesenian tradisional karena didukung oleh pemerintah dan objek pariwisata.
I. Meningatnya Tingkat Keagamaan karena adanya pendatang yang menyebarkan syiar-syiar agama Islam

KESIMPULAN

Kondisi masyarakat Desa Cihideung sebelum mengalami perubahan dari kawasan pertanian menjadi desa wisata dapat diidentifikasi pada tahun 1999. Mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Cihideung cenderung homogen dinominasi oleh petani dengan jumlah 87%, sebagai buruh tani sebanyak 10%, pedagang sebanyak 5% dan pekerja bangunan sebanyak 3%, Rendahnya tingkat pendidikan
yang disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat Desa Cihideung akan pentingnya, interaksi sosial yang kuat yang dicerminkan dalam sikap gotong royong, saling membantu, sikap sopan santun, sikap musyawarah, proses sosialisasi yang terjadi pada masyarakat

KELEBIHAN :
jurnal ini menjelaskan kepada viewer untuk membandingkan terkait perubahan yang signifikan tentang kehidupan sosial masyarakat cihideung setelah adanya gerakan perubahan desa sebelum dan sesudah menjadi desa wisata baik di sektor ilmu sosial. pengetahuan,teknologi dan lain sebagainya

KEKURANGAN:
penelitian ini hanya terfokus pada penjelasan tentang hasil dari perubahan sebelum dan sesudah desa cihideung menjadi desa wisatawan dan tidak menyertakan alasan faktor yang mendorong desa cihideung menjadi desa wisatawan

DAFTAR PUSTAKA


Lauer, Robert. H. 1993.
      Perspektif tentang Perubahan Sosial.              Jakarta: PT. Rhineka Cipta.
Malihah, Elly & Kolip, Usman.
      (2011). Pengantar Antropologi.
      Bandung: CV. Maulana Media Grafika
Murdiyatmoko, Janu. (2008). Sosiologi.                 Memehami dan Mengkaji Masyarakat.
       Bandung : Grafindo Media Pratama
Soekanto, Soerjono. (1991). Sosiologi Suatu
       Pengantar. Jakarta : Raja Grafinda.                 Persada.


















Minggu, 13 Oktober 2019

REVIEW JURNAL 

OKTOBER 12,2019

NAMA                : WAHYU HARVAIN BRAHMANA

MATA KULIAH : SEJARAH ASIA (A)


DINAMIKA PERKEMBANGAN INDUSTRI BESAR DI CHINA TAHUN 1998-2012

 

 Oleh :Muhammad Abipragolo Wijayanto
    Kajian Jurnal: Geografi
    Reviewer : Wahyu Harvain Brahmana
    Nama jurnal : Perdagangan dan industri.                                dalam pembangunan
    Tahun terbit jurnal : 2014
    

PENDAHULUAN


 Industri memegang peran penting dalam pembangunan ekonomi di sebuah negara karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sektor lain, di antaranya: nilai kapitalisasi modal yang tertanam sangat besar, kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar, dan kemampuan menciptakan nilai tambah (value added) dari setiap pemasukan atau bahan dasar yang diolah (Schey, 2000). Jumlah dan macam industri setiap negara berbeda-beda. Semakin maju tingkat perkembangan industri suatu negara, semakin banyak jumlah dan macam industrinya, serta semakin kompleks pula sifat kegiatan dan usaha tersebut (Turner, 1993). Menurut Djojohadikusumo (1985), perdagangan dan industri dapat mengambil peran pokok dalam pembangunan ekonomi suatu negara; ditandai oleh proses perubahan struktural yakni suatu perubahan dalam struktur ekonomi masyarakat. Proses perubahan yang dimaksud adalah produksi di sektor sekunder (industri manufaktur) beserta produksi di sektor tersier (sektor jasa yang di antaranya meliputi kegiatan perdagangan) semakin meningkat dan meluas dibanding dengan perkembangan di sektor primer (pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan). Hal ini terjadi di beberapa negara maju, di mana industri manufaktur menjadi bagian yang mendominasi aktivitas sektor industri dan menjadi sektor potensial dalam menunjang sektor pertanian, pertambangan, infrastruktur, dan sektor keuangan. Oleh karena itu, industri telah menempatkan diri sebagai tumpuan, harapan, dan motor penggerak sektor lainnya; yang tentunya harus ditunjang oleh sektor perdagangan yang stabil. China saat ini telah menjelma menjadi sebuah negara besar dengan sektor industri yang merajai kawasan negara-negara berkembang di Asia Tenggara bahkan dunia. Hal tersebut ditunjukkan dengan membanjirnya produk-produk industri dari China, mulai dari yang sederhana (mainan anak-anak, peralatan rumah tangga) sampai yang berteknologi tinggi (sepeda motor, mesin-mesin otomatis, smartphone, dan sebagainya). Harga barang produk China yang cukup murah dan pasar yang besar, memberikan andil bagi pesatnya perekonomian sehingga saat ini terjadi aliran arus modal industri yang cukup deras ke China (Zaenurrofik, 2008). 


HASIL DAN PEMBAHASAN

 Tingkat Perkembangan Industri
Untuk mengetahui tingkat perkembangan industri besar negara China dari tahun 1998-2012, dapat diukur menggunakan beberapa indikator. Adapun indikator yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui perkembangan industri tersebut meliputi: (a) jumlah perusahaan yang bergerak di bidang industri; (b) jumlah tenaga kerja industri; dan (c) nilai tambah (value added) industri. Di zaman modern ini, suatu negara menjadikan perusahaan industri sebagai andalan atau penopang untuk mendorong kemajuan negara, karena semakin maju dan berkembangnya perusahaan industri, menjadikan suatu negara dapat menguasai perekonomian dan perdagangan Dunia. Perkembangan jumlah perusahaan yang bergerak di bidang industri di China pada tahun penelitian dilakukan. Pada awal perkembangannya yaitu pada tahun 1998 jumlah perusahaan mengalami penurunan 64,76 persen yang disebabkan krisis moneter, tahun 1999 China belum mampu bangkit karena masih mengalami penurunan sebesar -1,85 persen, lalu pada tahun 2000 China mulai mengalami kenaikan yang signifikan dengan rata-rata 10,07 persen sampai tahun 2010, namun pada tahun 2011 sekali lagi terjadi penurunan sebesar -28,10 persen karena dampak krisis hutang dieropa. Tahun 2012 China mulai mengalami kenaikan lagi sampai 5,58 persen. Untuk mengetahui jumlah rata-rata, dimana untuk melihat provinsi mana saja yang mendominasi perusahaan industri secara terperinci, serta untuk melihat perkembangan rata-rata perusahaan industri setiap provinsi, maka dibuatlah klasifikasi pada masing-masing provinsi, dimana perkembangan perusahaan industri digolongkan menjadi klas tinggi, sedang dan rendah.  Tenaga kerja dalam penelitian ini merupakan salah satu indikator lainya dimana untuk mengetahui sejauh mana perkembangan industri besar di China pada tahun penelitian. Adanya suatu perusahaan industri tidak lepas yang namanya tenaga kerja, dalam menjalankan sebuah kegiatan industri dibutuhkan adanya manusia atau tenaga kerja untuk mengoperasikannya. Perkembangan tenaga kerja industri di China pada tahun penelitian dilaksanakan. Pada pada awal penelitian, yaitu pada tahun 1998 jumlah tenaga kerja industri mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, hal itu berlanjut sampai tahun 2003 dengan rata-rata penurunan -8,09 persen, lalu pada tahun 2004, China mulai mengalami kenaikan sampai tahun 2006 dengan rata-rata 4,47 persen dan memasuki tahun 2007 sekali lagi terjadi penurunan sebesar -0,08 persen, hal tersebut diakibatkan karena pada tahun tersebut   sedang  terjadi  kesenjangan sosial pada rakyat China, namun pada tahun berikutnya sampai batas penelitian tahun 2012, tenaga kerja industri di China selalu selalu mengalami kenaikan dengan rata-rata 4,67 persen. Untuk mengetahui perkembangan rata-rata tenaga kerja industri setiap provinsi, maka dibuatlah klasifikasi pada masing-masing provinsi di China, dimana perkembangan tenaga kerja industri digolongkan menjadi klas tinggi; sedang; dan rendah 

KESIMPULAN

Pertama, perkembangan industri besar menunjukkan―pada awalnya, tahun 1998 China belum mampu bangkit dari krisis keuangan yang melanda sebagian besar negara Asia, namun kemudian perlahan sampai akhir 2012, sektor industri mengalami peningkatan secara bertahap ―meskipun dalam beberapa tahun tertentu masih mengalami penurunan. Hal tersebut tidak lepas dari peran pemerintah China dalam mengambil kebijakan, adapun peran pemerintah China dalam mengambil kebijakan dapat dikatakan berhasil, yang diantaranya sebagai berikut; dimulai pada awal tahun 1998 ketika pasca krisis finansial, Presiden Jiang Zeming berusaha keras membuat kebijakan dengan mengumumkan bahwa perusahaan yang bergerak dibidang industri milik negara akan dijual kepada swasta. Memasuki tahun 2001 China mulai bergabung dengan organisasi dunia WTO (World Trade Organization). Tahun 2002 China mempunyai inisiatif untuk merangkul semua negara-negara ASEAN dengan membentuk organisasi internasional yang bernama ACFTA (Asean China Free Trade Agreement). Di tahun 2003 pemerintah China melakukan sidang pleno ke 3 PKC, legeslatif China mengajukan amandemen bagi konstitusi (UU) negara untuk melakukan industrialisasi terencana dan menekan jumlah pengangguran.  Pada tahun 2004, Presiden Hu dalam pemerintahannya telah menyetujui ribuan investasi perusahaan asing untuk menggerakkan mesin perekonomiannya. Tahun 2005, pemerintah China menyetujui Program Ekonomi Lima Tahun ke-11 (20062010), rencana tersebut bertujuan untuk membangun masyarakat yang harmonis. Di tahun 2007 pemerintah China mengeluarkan kebijakan yang memprioritaskan pada pembagian gaji tenaga kerja, untuk menanggulang kesenjangan. Memasuki tahun 2008, Olimpiade di Beijing merupakan semangat kuat bagi negara China untuk menunjukan diri pada negara di dunia yang siap bersaing di abad 21 ini, sehingga Olimpiade menjadi prioritas utama pada tahun tersebut. Pada tahun 2011, pemerintah China kembali melakukan serangkaian langkah untuk mendukung ekspor seperti meningkatkan potongan pajak ekspor dan menyediakan pendanaan perdaganagan untuk industri, dimana saat itu sedang terjadi krisis di Eropa yang berdampak pada kegiatan ekspor China.  Kedua, pola konsentrasi keruangan industri besar di China tahun 1998-2012 diketahui bahwa terdapat konsentrasi keruangan industri tinggi, dimana provinsi Zhejiang, Jiangsu, Guangdong dan Shandong selalu mendominasi dengan menempati hierarki tinggi. Dilihat dari lokasi provinsi yang terkonsentrasi tinggi tersebut, provinsi-provinsi tersebut berada pada bagian timur negara China, dimana terletak pada daerah pesisir yang berpotensi besar pada daerah pelabuhan yang terikat erat dengan sistem perdagangan global. Pesisir di daerah China memiliki keunggulan geografis dalam menarik perkembangan perusahaanperusahaan. Temuan ini tidak hanya mendukung teori geografi ekonomi baru dengan bukti di China, tetapi juga menekankan peran penting bahwa kebijakan itu sendiri mungkin akan langsung bermain di aglomerasi industri. 

KEKURANGAN

2. akan lebih baik apabila di sertakan tabel 
3. beberapa penggunaan bahasa yang sulit di mengerti

KELEBIHAN

1. Penjelasan yang rinci dan tertata dengan rapi
2. Secara keseluruhan penggunan tulisan dan maksud yang di sampaikan dapat di mengerti dengan mudah

 

Rabu, 09 Oktober 2019

REVIEW JURNAL SEJARAH KAMPUNG DANDILA MENJADI DESA MAROBEA KECAMATAN SAWERIGADI KABUPATEN MUNA BARAT (1960-2015)

REVIEW JURNAL SEJARAH KAMPUNG DANDILA MENJADI DESA MAROBEA KECAMATAN SAWERIGADI KABUPATEN MUNA BARAT (1960-2015)

1 april 2016
oleh : 
Dadaswati dan ali hadara

Sejarah terbentuknya Kampung Dandila

 Pada awalnya daerah Dandila merupakan bagian dalam kekuasaan kerajaan Tiworo, ketika daerah tersebut dijadikan salah satu daerah pertahanan dari serangan musuh sekitar abad 18, berdasarkan titah raja Tiworo yang memerintahkan salah seorang panglima perangnya atau dalam bahasa daerah setempat lebih dikenal dengan nama kapitalao yang bernama La Ode Muhammad, maka atas dasar pengamatan beliau ini daerah pertahanan tersebut dibentuk menjadi sebuah kampung dengan nama Kampung Dandila. Menurut tradisi lisan, Dandila berasal dari nama tanaman “kadandidandila” yang berarti kelam atau untuk sekarang ini lebih dikenal dengan nilam. Menurut cerita bahwa, tanaman kelam atau nilam ini merupakan tanaman liar yang banyak dijumpai sekitar daerah hutan belukar tersebut. Ketika daerah tersebut dijadikan salah satu daerah pertahanan dari serangan musuh, berdasarkan titah raja Tiworo yang memerintahkan salah seorang panglima perangnya atau dalam bahasa daerah setempat lebih dikenal dengan kapitalao Marobea yang bernama La Ode Muhammad, maka atas dasar pengamatan beliau ini daerah pertahanan tersebut dibentuk menjadi sebuah kampung dengan nama Kampung Dandila untuk mendedikasikan bahwa nilam merupakan tanaman khas daerah tersebut. Begitu seterusnya sehingga tempat itu lazim disebut Dandila. Begitu seterusnya sehingga tempat itu lazim disebut Dandila (La Ode Adam, wawancara 20 Januari 2016). Keberadaan kampung Dandila pada masa penjajahan Belanda tepatnya pada masa pemerintahan La Ode Muhammad sebagai kapitalao Marobea yang bertanggungjawab atas keamanan daerah tersebut, Dandila berfungsi untuk menampung dan mengelola seluruh penerimaan kerajaan yang ada disekitar daerah tersebut. Disamping itu, Dandila pada saat itu merupakan salah satu basis pertahanan kerajaan Tiworo di Wilayah Timur dari serangan penjajah Belanda ke pusat ibu kota kerajaan Muna. Setelah mangkatnya kapitalao Marobea yaitu La Ode Muhammad, pemerintahan Kampung Dandila diserahkan kepada La Ode Mpeleko dengan gelar Aromasili yang maknanya ”pemimpin yang membangun jalan”. Pemberian Aromasili ini sebagai wujud penghargaan masyarakat kepada beliau atas pembukaan jalan-jalan protokol yang menghubungkan Dandila dengan kampung-kampung lain di sekitarnya. Jalan ini dibangun guna menunjang lancarnya perekonomian Dandila dalam hal menyalurkan hasil kekayan buminya kepada daerah disekitarnya. Jalan yang dibuka oleh Aromasili ini sebagian besar masih dimanfaatkan sampai sekarang ini sebagai jalanan umum yaitu jalan menuju Kota Raha, menuju Tiworo, Menuju Wampodi, dan jalan menuju Kusambi. Pemerintahan Aromasili ini digantikan lagi oleh saudaranya yang bernama La Ode Pato dengan gelar Aromanasa yang maknanya ”pemimpin yang lama memerintah”. Dengan gagasan barunya Aromanasa melakukan pembangunan untuk perkembangan Dandila yang salah satunya membangun pemukiman bagi penduduk yang asalnya tidak jauh dari daerah Dandila dengan harapan agar kesejahteraannya meningkat dikarenakan bany`kanya potensi daerah baru ini termasuk lahan yang masih baru untuk digarap dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya, setelah mangkatnya Aromanasa ini kemudian digantikan oleh La Ode Kagili akan tetapi pada masa pemerintahannya ini tidak berlangsung lama disebabkan beliau sakit-sakitan sehingga untuk menjaga agar Dandila tetap memiliki seorang pemimpin, maka para tokoh masyarakat bermufakat agar ditunjuk pemimpin baru dan ketika hal ini disampaikan kepada La Ode Kagili beliau setuju dan mengusulkan agar ditunjuk La ode Pigi sebagai pemimpin baru di Kampung Dandila. Pada masa pemerintahan La Ode Pigi Dandila mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah penduduk sehingga untuk memudahkan pemerintahnnya, La Ode Pigi membagi Dandila dalam tiga wilayah kampung, yaitu RK Dandila, RK Matandasa, dan RK Lakalamba. Pemerintahan beliau ini berlangsung lama dan mampu menjadikan Dandila kampung yang aman dan sejahtera sehingga untuk menghargai jasa beliau tersebut diberilah gelar Yaro Tumanggo yang maknanya”pemimpin yang tangguh dalam meberikan keamanan kampung” (Ld. Wado, wawancara 1 Februari 2016).

Proses Perubahan Status Kampung Dandila Menjadi Desa Marobea Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat 

Desa Marobea merupakan desa yang sebelumnya dikenal dengan kampung Dandila yang merupakan pemukiman awal di daerah tersebut. Dikatakan Dandila karena pada saat itu status Kapitalao La Ode Muhammad sebagai pemimpin diwilayah tersebut. Kata Dandila diambil dari nama tanaman “kadandi-dandila” yang berarti kelam atau sekarang ini lebih dikenal dengan nilam. Pada masa kepemimpinannya Kapitalao La Ode Muhammad digantikan dengan Aromasili, Aromasili digantikan dengan Aromanasa, Aromanasa digantikan dengan Ararasi dan Ararasi digantikan dengan Yaro Tumanggo. Pada masa pemerintahan Yaro Tumanggo Kampung Dandila dibagi atas tiga wilayah kampung, yaitu RK Dandila, RK Matandasa, dan RK Lakalamba. Pada tahun 1961/1962 Kampung Dandila pernah menjadi ibu kota Kecamatan yaitu Kecamatan Laworo. Pada tahun 1967 Kampung Dandila diusulkan oleh masyarakat yang dipimpin La Aku untuk dibentuk menjadi sebuah desa dan usulan tersebut diterima sehingga pada tahun 1968 Kampung Dandila dibentuk menjadi Desa Marobea berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Muna Nomor 30 Tahun 1968 Kampung Dandila terbentuk menjadi desa dengan nama Desa Marobea yang berada dalam cakupan Kecamatan Lawa, yang berbatasan di sebelah Utara dengan Kusambi, sebelah Selatan dengan Kabawo, sebelah Timur dengan Desa Latompe sebelah barat dengan Tiworo. Pemberian nama Marobea tersebut berasal dari Kapitalao Marobea yang konon bertempat di Dandila dan dijabat oleh Laode Muhammad pada saat itu (Sumber: Kantor Daerah Kabupaten Muna). Serah terima Desa Marobea dilakukan oleh Laode Rasyid selaku Bupati Muna pada saat itu disaksikan pejabat daerah tingkat II kepada La Aku dan menjabat sebagai Kepala Desa Marobea I 1968-1971 wilayahnya meliputi tiga RK yaitu RK Dandila sebagai ibu kota Desa dan RK Matandasa serta RK Lakalamba. Perubahan status dari Kampung Dandila menjadi Desa Marobea seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan banyaknya masyarakat yang mulai berdatangan, pengawasan terhadap beberapa wilayah kecamatan Laworo khususnya Marobea yang wilayahnya meliputi Dandia, Matandasa, dan Lakalamba dengan penduduk secara keseluruhan 708 jiwa (1961). Kampung Dandila dibentuk menjadi Desa Marobea berawal dari sebuah usulan yang dilakukan oleh masyarakat yang dipimpin La Aku pada awal tahun 1967 dan usulan tersebut diterima sehingga pada tahun 1968 Kampung Dandila dibentuk menjadi Desa Marobea karena kebijakan pemerintah pusat dan daerah dengan memperhatikan syarat-syarat pembentukan Desa yang mengacu pada UndangUndang Nomor 19 Tahun 1965 dan pada tahun 1979 digantikan dengan UndangUndang No 5 Tahun 1979, sebagaimana yang tercantum pada Pasal 2 ayat (1) Desa dibentuk dengan memperhatikan syarat-syarat luas wilayah, jumlah penduduk, dan syarat lain yang akan ditentukan lebih lanjut dengan peraturan Menteri Dalam Negeri, (2) Pembentukan nama, batas, kewenangan, hak dan kewajiban Desa ditetapkan dan diatur dengan peraturan daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. dengan melihat beberapa syarat-syarat yakni: Pertama, Jumlah Penduduk. Jumlah penduduk Kampung Dandila merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung perubahan status Dandila menjadi Desa Marobea, jumlah penduduk Desa Desa Marobea dengan tingkat kepadatan sebesar 514 KK atau 894 Jiwa yang terdiri dari Laki-Laki 465 jiwa dan Perempuan 429 jiwa (1968). Kedua, Luas Wilayah. Faktor wilayah dalam rangka pelaksanaan pemerintahan, baik tingkat Negara, Provinsi, Kecamatan, maupun ditingkat Desa/Kelurahan merupakan hal yang sangat penting. Pertimbangan luas wilayah Kampung Dandila sangat mendukung terjadinya perubahan status Kampung Dandila menjadi Desa Marobea luas wilayah 5.453 ha meliputi (569 ha) luas perumahan, (1.120 ha) luas pekarangan (1.665) luas ladang, (684 ha) luas persawahan, dan (415 ha) luas hutan. Kondisi tanah yang cocok untuk dijadikan areal pertanian dan perkebunan jagung, kacang tanah, sawah, jambu mete dan lain lain menjadi komuditas andalan masyarakat Kampung Dandila, mata pencaharian pokok penduduk adalah bertani. Hasil bumi terpenting Kampung Dandila adalah jagung, kacang tanah disamping padi, pisang, singkong, dan sayur-sayuran. Faktor sosial juga merupakan bagian dari faktor pendukung terbentuknya suatu daerah. Kegiatan pembangunan pada bidang sosial merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pembangunan, kondisi sosial masyarakat Kampung Dandila. Dukungan sarana dan prasarana yang cukup memadai serta potensi ekonomi yang dapat memberikan jaminan dan dukungan bagi masyarakat sehingga hubungan sosial ini berjalan dengan baik dan meluas.

Perkembangan Kampung Dandila setelah menjadi Desa Marobea

 Kampung Dandila merupakan daerah yang mayoritas penduduknya bergerak dibidang pertanian dan perkebunan. Dilihat dari segi geografis Kampung Dandila masih memiliki wilayah yang luas yang bisa dijadikan untuk lokasi pertanian dan perkebunan. Keadaan ekonomi masyarakat Kampung Dandila merupakan dasar dalam pembangunan baik itu potensi ekonomi pertanian, perkebunan, maupun berbagai macam jenis usaha jasa dan produksi serta keanekaragaman mata pencaharian menjadikan pembangunan didaerah ini semakin maju dimana tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat banyak dipengaruhi tinggi rendahnya kehidupan ekonomi masyarakatnya. Sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung pembentukan suatu daerah. Begitupun dengan perubahan status Kampung Dandila menjadi Desa Marobea tidak terlepas dari dukungan faktor sarana dan prasarana sebagai pendukung kegiatan pelayanan yang memadai yang sangat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan tugas sebagai aparat pemerintah, yang dimaksud sarana dan prasarana pendukung disini adalah benda-benda, alat-alat serta bangunan yang mendukung dalam pelaksanaan tugas pelayanan. Sarana dan prasarana pemerintahan apabila tidak dimiliki maka membuat suatu daerah akan lamban dalam pengurusannya. Sarana dan prasarana yang dimiliki Kampung Dandila sudah ada baik dari sarana pemerintahan, pendidikan dan keagamaan, 1968 dilakukan pembangunan Balai Desa, Sekolah dan Masjid yang tersebar dibeberapa tempat namun sifatnya masih sederhana, Serta pasar meski waktu pasar masih terbatas (Ld. Kudusia, Wawancara 13 Februari 2016). Seiring dengan terbentuknya Desa Marobea beberapa masyarakat yang memiliki pendidikan serta bisa membaca dan menulis ditempatkan sebagai Staf Desa serta menjadi Kepala Lingkungan ditunjuk untuk membantu jalannya pemerintahan di Desa Marobea. Pada saat itu meski struktur Desa belum tertata kegiatan pelayanan di Desa Marobea berjalan dengan baik, adapun staf di Marobea yakni: La Ifu, La Ode Tarudu, dan La Rosadia. Berdasarkan uraian diatas, bahwa perubahan status Kampung Dandila menjadi Desa Marobea merupakan proses yang telah teratur dalam sistem pemerintahan pada masa itu yang secara keseluruhan mengikuti ketentuan Undang-Undang dan keputusan Menteri Dalam Negeri didalam pelaksanaannya. Hingga sampai saat ini Desa Marobea masih dalam wilayah Kecamatan Sawerigadi namun dengan dimekarnya kabupaten induk maka wilayah desa Marobea masuk dalam naungan pemerintahan kabupaten baru yaitu Kabupaten Muna Barat. Adapun Kepala Desa yang pernah menjabat yakni: Pertama, Periode La Aku (1968-1971). Merupakan putra daerah Marobea yang ditunjuk sebagai pelaksana jabatan dan atas penunjukan langsung Bupati Muna pada saat itu menjabat sebagai kepala Desa Marobea. Dimasa jabatanya selama kurang lebih tiga tahun bertanggung jawab atas wilayah Marobea dan mengatur jalannya proses relokasi masyarakat Restlement yang terdiri dari tiga tahap yang dibagi menjadi tiga RK yang berasal dari beberapa Desa dikawasan Lawa, Tiworo, dan Kusambi. Beliau juga menata jalan dan pemukiman masyarakat dengan baik serta mengawasi pembangunan rumah dan fasilitas yang disediakan untuk masyarakat yang menunjang kegiatan di Desa yakni Kantor Desa, Masjid, Sekolah, Pasar namun masih sederhana serta TPU. Kedua, Periode La Ode Farihi (1971-1974). La Ode Farihi Menjabat kepala Desa menggantikan La Aku, wilayah Marobea. Dimasa jabatannya kurang lebih tiga tahun melanjutkan kegiatan yang dilakukan Kepala Desa sebelumnya dan beberapa pembangunan Desa. Dimasa jabatanya beliau mengadakan pembangunan fasilitas serta sarana dan prasarana bagi masyarakat Marobea yang mendukungnya jalanya pemerintahan dan perkembangan di Kabupaten Muna yang sumber pembangunannya berasal dari pemerintah pusat dan daerah seperti Sekolah dan Masjid. Keempat, periode Muhammad Arief. S (1974-1979). Adanya sinergi kegiatan pembangunan dari pemerintah Kabupaten Muna bersama pemerintah Desa, sehingga beliau memberikan pelayanan bagi masyarakat antara lain; Surat izin keramain, Surat keterangan nikah dan Surat pengolahan lahan pertanian. Kelima, periode Lady. T, Ba (1979-1982). Beliau memberikan layanan kepada masyarakat sesuai dengan apa yang diperlukan yakni: Surat pengantar kartu tanda penduduk, Surat keterangan berdomisili, Surat keterangan ahli waris, Surat keterangan tidak mampu, dan surat pengantar meminjam uang di Bank. Pembangunan mengarah pada fasilitas-fasilitas yang menunjang kegitan atau aktifitas masyarakat yang diutamakan oleh pemerintah yakni Masjid, Sekolah, serta Pasar yang dibangun sebagai sarana untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Marobea, Kecamatan Sawerigadi (Syafruddin. S, wawancara 20 Februari 2016). Keenam, periode L.M. Kasim (1982-1983). L.M. Kasim Menjabat kepala Desa menggantikan Lady. T,Ba. Dimasa jabatannya kurang lebih satu tahun beliau melanjutkan kegiatan yang dilakukan Kepala Desa sebelumnya dan beberapa pembangunan Desa. Ketuju, periode La Ode Abd. Rahim (1983-1993). La Ode Abd. Rahim selaku Kepala Desa dimasa jabatannya, pemberian lahan diberikan bagi masyarakat yang belum memiliki tempat tinggal serta lahan perkebunan yang pada saat itu masih tinggal bersama keluarga mereka yang merupakan masyarakat Restlement Desa. Namun hanya sebagian masyarakat yang benar-benar siap untuk tinggal dan memanfaatkan lahan tersebut untuk bertani bagi mereka yang belum memiliki lahan yang sekarang menjadi daerah kampung baru dan seiring dengan perluasan pemukiman dan dibukanya lahan pertanian baru bagi masyarakat maka pemerintah Desa menganjurkan bagi masyarakat yang telah memiliki lahan pertanian dan tempat tinggal untuk mendatakan diri di Kantor Desa dalam rangka pembuatan surat pengolahan lahan pertanian/perkebunan untuk tiap lahan pemerintah yang ditempati sebagai data laporan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya tumpah tindih bagi masyarakat yang bertahan. Kedelapan, periode La Ode Baliudin (1983-2000). Pada masa pemerintahan La Ode Baliudin Desa Marobea mengalami perkembangan yang sangat signifikan yang ditandai dengan adanya pembangunan jalur listrik yang dibutuhkan masyarakkat sebagai arternatif lain dalam hal penerangan kampung pada umumnya dan rumah pada khususnya. Selain itu, untuk meningkatkan hasil produksi padi bagi petani beliau bersama pemerintah daerah membangun dua bendungan sebagai akomodasi irigasi bagi sawah-sawah yang berada di daerah Marobea. Adapun komitmen beliau untuk meningkatkan kecerdasan masyarakatnya maka diperlukan pendidikan yang salah satunya diwujutkan dalam pembagunan SLTPN 4 LAWA agar murid SD yang ingin melanjutkan studinya kejenjang berikutnya dapat dilakukan dalam Desanya sendiri tampa harus ke desa lain seperti yang terjadi sebelumnya yaitu ke desa Matakidi dan ke Kelurahan Tiworo. Kesembilan, Syarifuddin. S (2000-2013). Beliau merupakan Sekretaris Desa pada masa pemerintahan sebelumnya dan ketika La Ode Baliudin selaku Kepala Desa wafat sebelum masa akhir jabatannya, maka secara normatif Syarifuddin menjadi pelaksana jabatan Kepala Desa. Pada dasarnya pembangunan yang dilakukan oleh Syarifudin. S ini hanya melanjutkan pembangunan yang dilakukan oleh Kepala Desa sebelumnya. Disamping itu juga beliau melakukan terobesan-terobesan baru dalam membangun Desa Marobea, baik itu sarana, ekonomi, maupun sosial budaya. Kesepuluh, La Uni Samir (2013-sekarang). Pembagunan Desa marobea pada masa pemerintahan La Uni Samir, dimaksudkan untuk persiapan bakal calon ibu kota Muna Barat yang mana pada saat awal pemerintahannya sedang gencar-gencarnya diaspirasikan oleh masyarakat khususnya Desa Marobea. Sebagai bukti nyata atas pesiapan tersebut maka di kawasan Desa Marobea diwajibkan untuk setiap rumah menyediakan lampu penerang jalan yang ditempatkan di depan gerbang setiap rumah masyarakat sehingga pada malam hari kawasan Desa Marobea nampak terlihat seperti kawasan perkotaan. Pada saat Desa Marobea menjadi ibu kota dari Kabupaten Muna Barat maka dibagunlah tribun sebagai tempat pelaksanaan upacara-upacara daerah dan dibangunya tugu persatuan Desa Marobea yang belambangkan jangung hibrida sebagai symbol hasil bumi utama daerah tersebut.

REVIEW


Berdasarkan uraian dalam hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut: 
1. Sejarah terbentuknya Kampung Dandila pada awalnya daerah Dandila merupakan bagian dalam kekuasaan kerajaan Tiworo, ketika daerah tersebut dijadikan salah satu daerah pertahanan dari serangan musuh, berdasarkan titah raja Tiworo yang memerintahkan salah seorang panglima perangnya atau dalam bahasa daerah setempat lebih dikenal dengan nama kapitalao yang bernama La Ode Muhammad, maka atas dasar pengamatan beliau ini daerah pertahanan tersebut dinamakan Dandila.

 2. Proses perubahan status Kampung Dandila menjadi Desa Marobea dari sebuah pengusulan Pada 1967 dan berdasarkan pada peraturan daerah Kabupaten Muna Nomor 30 Tahun 1968 tentang pembentukan Desa Marobea, Kampung Dandila terbentuk menjadi sebuah Desa dengan nama Marobea yang berada dalam cakupan Kecamatan Lawa. Serah terima Desa Marobea dilakukan oleh Laode Rasyid selaku Bupati Muna pada saat itu disaksikan pejabat daerah tingkat II kepada La Aku dan menjabat sebagai Kepala Desa Marobea I 1968-1971 wilayahnya meliputi RK yaitu RK Dandila sebagai ibu kota Desa dan RK Matandasa serta RK Lakalamba. 

3. Perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi Desa Marobea dapat dilihat dari Solidaritas diantara warga masyarakat dalam melakukan berbagai aktifitas seharihari dilakukan dengan cara gotong-royong yang sudah merupakan kebiasaan masyarakarnya sejak dulu, dalam hal membangun Desa Marobea seperti membuat jalan-jalan usaha tani, pembangunan rumah sesama warga, serta dalam proses pengolaha lahan pertanian dan kegiatan-kegiatan lain yang biasanya dilakukan secara gotong-royong. Seiring perkembangnya Desa Marobea Kecamatan Sawerigadi pembangunan terjadi dibeberapa bidang baik itu pembangunan fasilitas umum maupun sarana dan prasarana yang menjadi kegiatan pembangunan pemerintahan yang menunjang kehidupan ekonomi masyarakat Desa Marobea.



Review Buku "Prakapitalisme di Asia". Penulis: Dr. J.H. Boeke 1983

Review Buku "Prakapitalisme di Asia". Penulis: Dr. J.H. Boeke 1983



Hasil gambar untuk buku prakapitalis di asia




Masyarakat Desa Prakapitalis
Werner Sombart dalam buku Modern Capitalism, bahwa para bangsawan memimpin kehidupan feudal tanpa mengerjakan pekerjaan ekonomi apapun, mereka adalah pemimpin perang dan pemburu.Orang-orang awam adalah rakyat dengan sedikit perbedaan kedudukan social, namun memiliki semangat kelompok yang kuat.Hidup diatur secara oragnis, tunduk serta menyesuaikan diri dengan penguasa alam yang mahakuasa.Landasan eksistensi prakapitalistis ialah hemat, ingat, dan istirahat. Gambaran yang diisi dengan perincian, misalnya tentang keterbatasan cakupan kebutuhan individu, karena penyerapan oleh masyarakat, mengakibatkan menundukan kegiatan ekonomi dibawah kegiatan social, candi jauh lebih penting dari pada rumah, prestige lebih diperhitungkan daripada kekayaan, kekuasaan lebih daripada keuntungan.
Keseimbangan yang dijaga dengan ketat bertumpu pada landasan masyarakat prakapitalistis yang stationer. Desa yaitu unit kemasyarakatan prakapitalistis, memiliki kemiripan yang menyolok dengan organism lain. Hokum yang terus menerus berlaku mensyaratkan bahwa: masyarakat desa berarti seluruh masyarakat prakapitalistis, bergantung pada penduduk yang tidak berubah (stasioner). Landasan komunal yang memegang yang memegang para anggota desa dan mengikat mereka ke tanah yaitu pertama memiliki watak keagamaan, kedua pembudidayaan tanaman tertentu hanya melayani kebutuhan produsen serta keluarganya.Ciri-ciri ini menandakan bahwa pertanian dalam desa adalahnuntuk swasembada semata.
Perbedaan antara sikap dianut terhadap milik produktif dengan terhadap untuk konsumsi adalah sangat pencolok.Betapa kecerdikan, ketekunan, keterampilan dan kesabaran dicurahkan untuk membuat hiasan-hiasan, senjata, pakaian, untuk upacara kenegaraan, rumah.Betapa telaten memelihara sapi kerapan, kuda, ayam aduan dan perkutut.tetapi terhadap modal sebagai faktor produksi dan sebagai pengganti tenaga kerja, sikap orang desa tidak bersahabat.

Masyarakat Desa dalam Perbenturan Dengan Kapitalisme
Sulit untuk melukis sebuah dunia yang sangat kecil seperti desa. Dibanyak daerah rata-rata terdiri dari dua puluh sampai lima puluh rumah tangga, di daerah lain mendekati seratus. Sebuah des dengan penghuni seribu seribu orang atau lebih, dalam bahaya terlampau padat dan kehilangan solidaritas komunalnya.Sebuah pemerintah dengan selera kebijakan barat, menganggap uni-unit kecil dan lemah ini kurang dapat dikelola.Jadi, untuk maksud-maksud administratif, kebijakan pembentukan unit-unit baru bisanya berupa mengabungkan sejumlah desa. Sebab, desa ialah masyarakat petani bergenerasi hidup bersama, tumbuh bersamaan dengan desa mereka.sedang wakil-wakil organisasi bercorakbarat, tetap seperti burung-burung yang melintas, orang-orang luar “orang asing”, orang kota.
Terkadang orang orang-orang luar ini bergerombol bersama di sebuah pojok kota, yang kemudian menampilkan ciri-ciri baru: sesuatu yang mirip gardu luar perkotaan. Di pojok ini kita menjumpai balai desa, sekolah, penggilingan beras, toko desa, bank desa, bangunan baru dari koperasi pertanian.Di sini tinggal lurah, guru-guru seolah, tukang-tukang kredit, penjahit serta para tukang modern.Disini adat istiadat desa yang kuno tidak diikuti, bentuk gotong royong tradisional tidak dilakkan, upacara-upacara serta perayaan desa tidak diacuhkan di sini orang menggunakan penanggalan barat untuk menentukan mingggu istirahat dan liburan mereka.disini perekonomian dilandaskan pada uang dan pertukaran.
Di Negara-negara ini, pemerintah tidak memiliki pemahaman atau tanggap rasa terhadap desa, kebijakan ekonomi mencampurinya, sekolah-sekolah mengeritik, para pejabat tidak mengacuhkannya.Lebih lanjut, para pegawai ini, para penguasa barat, merasa diri mereka asing dalam masyarakat desa, dan hal ini sering membawa akibat lanjut yang serius.Pemerintah barat melalui lembaga-lembaganya mengisolasikan perorangan, tua dan muda, dari masyarakat terdekat sampai kelarga dan desa. Pemrintah barat memaksakan padanya dalam segala bentuk organisai impor dari barat sampai organisasi-rganisasi dimana ia tidak merasa betah dan oleh karenanya ia hanya digunakan sebagai orang luar. Pemerintah barat melarang dan menghalangi adat istiadat kemasyarakatan serta keagamaannya.pemerintah barat secara eksklusif hanya bermina pada kegiatan-kegiatan ekonominya.Dan pemerintah barat menekan keinginan-keinginan ekonominya, tanpa mamu menyediakan cara-cara atau memprkuat cara-cara yang telah dimilikinya untuk memenuhi keinginan-keinginan itu. Sebagai hasilnya, persaan frustasi dan kemiskinan terbit dalam perorangan
Dimiskinkan serta di individualismekan, orang-orang desa cenderung untuk mengabakan kepentingan dan kewajiban social mereka. Tanah tidak lagi mampu member cukup makan bagi penduduk yang semakin tumbuh. Di pedesaaan yang terlampau padat di Negara-negara timur,kemiskinan dan kekurangan menyeluruh, bagian terbesar dari pajak yang berat dibebankan ke punggung petani, meskipun sejauh ini ia mendapatkan kesempatan ntuk mencari uang,bagian hail pertanian yang diambil tuan tanah kota dalam bentuk uang semakin naik, karena penciutan tanah milik rata-rata dan menghilangkan industry pedesaaan, petani semakin lama semakin sulit untuk sepenuhnya menggunakan tenaganya dan penganggguran musiman mengalami kenaikan, bebean utang yang dikeluhkan semakin berat, dan dengan sigap menerkam bagian hasil pertaniannya dalam bentuk bunga pinjamann,pengolahan hasl tanah berkesinambungan melebihi batas, mengurangi kesuburannya dan mengakibatkan gagal panen lebih sering erjadi.karena kurang diberi makan, ternak merosot atau harus diabaikan.ikatan keluarga terlepaskan oleh pendidika barat,kerja di pabrik dan dinas militer.
Keadan ini berbeda secara radikal dengan pikiran yang ada dinegara-negara barat, dimana dualism antara kta dngan desa memiliki konsekuensi-konsekuensi yang penting. Hal ini akan Nampak seandainya kita meneliti sepuluh aspek yang berbeda dari dualism.
1. Sejauh menyangkut suplai tenaga kerja, industry perkotaan tidak tergantung pada proletariat kota yang telah meninggakan desa untuk selamanya, dan menancapkan akar di pusat-pusat perkotaan.
2. Pengangguran yang timbul dari fluktuadi-fluktuasi permintaaan produk-produk industry tidak menciptakan maslahkepadatan penduduk perkotaaan, tetapi suatau maslah untuk desa ,hakikatnya maslah agraria.
3. Dinegara oriental ini tidak terdapat “pasukan cadangan industry” tetapi “pasukan cadangan agrarian”, suatu proletariat atau semiproletariat pedesaaan, berifat prakapitalis, tradisional dan mandek, belum matang untuk organisasi modern. Suatu pasukan cadangan yang memberati kedudukan petani dengan kelaparan tanah da memberati buruh tani dengan standar kehidupan yng rendah.
4. Pada mulanya tanpak kecenderungan industri untuk menyebar, perusahaan-perusahaan berukuran kecil dan menengah berusaha memperluas kesempatan dengan menetap dan hidup dari pedesaan.
5. Tingkat upah buruh industri ditekan oleh kenyataan bahwa upah industri kerap kali hanya merupakan pendapatan tambahan melengkapi pendapatan keluarga petani kecil.
6. Di Negara-negara kapitalis yang homogen, kepentingan-kepentingan para pemilik tanah biasanya berlawanan dengan para majikan industri.
7. Kecondongan penduduk pedesaan untuk bermigrasi sangat lemah. Dengan demikian, hampir seluruh migrasi bersifat sementara dan tidak berkembang menjadi kolonialisme (transmigrasi) daerah-daerah asing.
8. Secara umum dapat dikatakan bahwa buruh sebagai sebuah faktor produksi, memiliki mobilitas yang lamban. Dengan demikian terdapat perbedaan upah yang mencolok tanpa ada yang diratakan. Industri-industri yang ada di pedesaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi mampu mengunakan kelebihan “tangan-tangan” secara tidak terbatas.
9. Terdapat jarak yang jauh antara pertukaran kapitalis barat dengan rumah tangga keluarga kapitalistis, karena kurangnya daya beli di pasar dalam negeri hingga membuat pertukaran itu bergantung pada pasar dunia. Jadi, bersifat internasional dan terpusat pada perusahaan-perusahaan impor dan ekspor barat.
10. Akibat lanjut depresi maupun deflasi menimpa punggung petani. Dalam masyarakat dimana proletariatkota menyediakan buruh dan petani menyediakan bahan makanan, depresi membawa pengaruh penurunan upah serta pengangguran para penerima upah. Tetapi pada saat yang sama menurunkan biaya hidup.
Apabila kejadian tersebut terjadi di Negara “kolonial” mungkin akan diikuti oleh tahap keempat: tahap yang ditandai oleh campur tangan pemerintah yang kawatir akan keresahan kaum tani dan menghalangi para tengkulak untuk mengerahkan daya peras ekonomi mereka sampai tuntas. Namun dinegara seperti cina, yang lebih mungkin terjadi ialah para penguasa bersekutu dengan tengkulak.

Masalah Penduduk
Dinegara-negara barat kepadatan penduduk merupakan suatu unsure yang berubah berkaitan dengan pertumbuhan kota-kota industry perkotaan yang pada gilirannya bergantung pad produktivitas pertanian. Dinegara-negara itu gejalanya ditandai denagn kekurangan penduduk di pedusunan diamana tenaga pertanian digantikan oleh mesin.Umumnya dikbupaten-kabupaten Negara Timur, selama berabad-abad kepadatan penduduk ini hamper merupakan kuantitas yang stabil. Kepadatan ini ditentukan oleh kesuburan tanah oeh intensitas dan produktivitas bentuk pengarapan tanah yang digunakan,oleh kesempatan memperolaeh pendapatan dari sumber-sumber nonpertanian, oleh standard hidup an tidak kalah penting oleh ukuran bagian kerja petani yang diminta oleh tuan tanah beserta para pembantunya rentenir serta pemerintah.
Pada mulanya standard hidup tidak lebih tinggi dari sekarang.tidak pula lebih rendah. Benar, terdapat berbagai jenis larangan, tidak pula lebih rendah.Seperti telah dinyataka sebelumnya pertanian petani oriental berlandaskan pada keluaraga, dan ditujukan unutk mendukungnya.Apabila penduduk terutama tergantung paa pertanian, kepadatannya sanagt terkait denagn jumlah keperluan lahan garapan setiap keluarga unutk maksud tertentu.Ini sebabnya apabila tidak terdapat perubahan yang muncul dalam landasan dan tujua kepadatan penduduk yang merupakan resultant tetap stationer pula.
Di lai pihak, perkembangan penduduk dengan kepadatan yang tidak terlampau berubah, telah mengharuskan penggarapan tanah-tanah yang kurang subur atau tanah-tanah yang oleh sebab lain menjadi kurang produktif dan menuntun kearah pengurangan kesuburan tanah-tanah yang telah lama digarap denagn demikian penggarapan yang lebih intensif belum tentu menaikkan output yang sebanding.
Dan bagaimana denagn standard hidup?tidak dapat disangkal standard hidup berubah tetapi tidak harus berubah kearah yang leih baik. Pengaruh kapitalistis Barat telah beropeasi disini unytk memperosotkan bukannya menaikan standar-standar kualitatif. Mungkin benar keinginan-keinginan telah semakin luas dan beraneka , namun benar pula bahwa barang-barang yang dibutuhkan untk memuaskan keinginan-keingina ini dalam ukuran luas telah merosot untuk konsumen oriental.
Ketrgantungan pasar untuk memuaskan keinginan-keinginan seorang, berrarti pula ketergantungan pada kebutuhan orang lain atas barang-barang atau jasa-jasa yang dapat ditawarkannya dan pertanyaannya tetap apakah keinginan orng lain cukup kuat untuk menjamin penyaluran yang menguntungkan bagi hasil produksi petani. Hasil produksi yang pilihannya terutama tidak menurut nilai pasar. Dengan mempertimabangkan segalannya harus disimpulakan, bukanlah standard hidup penduduk pedesaan Asia Timur maupun produktivitas tenaga kerjannya yang telah berubah.
Kesimpulan menurut nalar ini diperkuat oleh fakta-fakta yang telah terkenal.Data kesejarahan menunjukkan bahwa berabad-abad lalu, petani Timur tidak menggarap tanah milik yang lebih luas. Pada waktu itu kawasan garapan yang sama harus menunjang jumlah jiwa yang hamper sama. Teapi sekarang dibawah kapitalisme telah terjadi perubahan yang tidak menguntungkan keadaan. Semua ini berarti, telah tercipta suatu seper struktur yang maha besar dan harus dirawat oleh petani petani dengan kerja kerasnya, meskipun kerja ini kuan produktif sehingga jarang menyisakan surplusdiluar keswasembadaannya sendiri.Superstruktur ini membentuk dan mengisi bgian penting dari kota-kota besar oriental.
Kenaikan jumla penduduk mungkin memperbesar kepadatan pedesaan.Namun tidak harus selalu demikian daerah-daerah pedesaan terdapat letak dikawasan –kawasan subur dengan tanah yang memperoleh irigasi apabila dikawasan tetangga terdapat kawasan subur lainnya, penduduk mungkin menyebar dikawasan itu.Namun tingat penduduk yang stationer ini menjaga dirinya dengan perluasan dengan perluasan dan penciutan yang silih berganti terus menerus dan tidak teratur.Kurva (liku-liku perkembangan) penduduk mirip gambar sebuah pegunungan dengan bukti-bukti terjal dan jurang-jurang yang dalam.
Semua kendali penekanan yang disebut Malthus dalam bukunya Essay on the principle of population kelaparan, wabah, perang, kejahatan, bencana alam megamuk didalam Negara-negara oriental , apabila dan selama mereka dibebaskan. Malthus menyebutnya kendali-kendali penekanan (repressive checks) sejauh mereka tidak menyentuh gairah seksual yang menyebabkan kenaikan penduduk dan sekedar melawan hasilnya mahluk hidup dilahirkan atau tidak. Hanya kapitalisme yang menambah kendali dengan sebuah kendali pencegah yang setidak-tidaknya sama pentingnya.
Dipihak lain, perlawanan terhadap kendali penekanan kenaikan penduduk telah dilaksanakan oleh pemerintah-pemerintah berpikiran Barat dinegara-negara oriental, seenergik dan seefektif seperi yang dilakukan di Eropa. Dan meskipun karena kurangnya pengetahuan serta kerja sama rkayat, hasil-hasilnya tidak seajaib di Eropa, namun kebijakan kesehatan masyarakat, keamanan dalam negeri, langkah-langkah mencegah kejahatan dan kelaparan,telah berpengaruh pda tingkat kematian penduduk.
Lebih penting dari transmigrasi perpindahan penduduk, industrialisasi, irigasi, penataran, pertanian dan sebagainya ialah gejala-gejala diantara rakyat sendiri yang berupa berkembangannya kesadaran tanggung jawab mereka untuk menyelasikan masalah penduduk. Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa bentuk-bentuk pembatasan kelahiran yang prakapitalistis,pengguguran dan pembunuhan bayi, meluas kembali khusunya pengangguran hari ini dilakukan secara menyeluruh dibagian dunia itu. Dalam hal ini tingkah laku pemerintah-pemerintah masih ragu-ragu.
Masyarakat desa prakapitalistis membutuhkan batas yang longgar dari cara-cara menunjang hidup, karena selalu terdapat oran-orang yang tidak aktif dengan cara yang produktif , bukan hanya anak-anak dan orang jompo yang cacat dan miskin, yang secara social tidak cocok dan yang gagal, melainkan pula serombongan pengemis, gelandangan, fakir, rahib dan pendeta mereka yang butuh bersadar ke masyarakat desa karena mereka adalah bagiannya, dan mereka hidup didesa. Walupun lambat dan tidak disadari dengan adanya penciutan penguasaan tanah rata-rata seta kemerosotan kerajinan tangan, proporsi waktu yang dicurahkan unutk kegiatan aktif menyusut.Dalam setiap kejadain, bagian penduduk desa yang aktif trlapau banyak menganggur dan siap untuk menganggur.jadian, bagian penduduk desa yang aktif terlampau banyak menganggur dan siap untuk menganggur.
Tetapi konsepsi prakapitalistis tentang hidup mulia ini, merupakan hasil jadi dari prasyarat adanya kesnggangan tertentu dalam persaingan kebutuhan-kabutuhan hidup yang utama.Dengan demikian, adalah tidak tepat apabila menggunakan pengangguran sebagai semata-mata ukuran kepenuhsesakan setempat.Sejak sekitar tahun 1800, ketika penduduk Jawa belum mencapai seperdua puluh ukuran kelak kemudian (1948), seorang penguasa menyatakan bahwa pulau ini dipadati para panganggur.Kehidupan desa menghendaki para penganggur ini tampil sepenuh mungkin, sebagaimana pula para penganggur menghendaki agar desa menjalankan jalan hidup mereka.
Jadi, hanya satu kesimpulan yang mungkin: kepadatan penduduk adalah masalah komunal yang dapat dikatakan ada segera setelah desa tidak lagi mampu hidup menurut prinsip-prinsip prakapitalisnya yang khusus. Kepadatan tersebut telah ada sejak dulu, lama sebelum pemerintah-pemerintah Barat menyadari eksistensinya, dan mencoba melawannya dengan cara-cara Barat.
Di negara-neara kapitalistis Barat, pengangguran utamanya merupakan gejala perkotaan.Di sini pelarian dari tanah telah membebaskan desa dari kelebihan penduduk, dan menaikkan produktivitas tenaga kerja pertanian.Sebaliknya, di negara-negara prakapitalistis, tidak ada pernyataan tentang meninggalkan tanah.Hal ini di barat dikondisikan dengan penerimaan semangat kapitalisme berikut individualismenya, rasionalisme, kenaikan keinginan-keinginan dan pengejaran hasil oleh penduduk pedesaan.Pertama kehidupan desa tradisional harus ditaklukkan. Namun, kota pun harus memiliki sesuatu yang ditawarkan pada pendatang baru dari desa: hidup yang lebih bebas dan baik. Dalam kedua aspek, Timur berbeda dengan barat. Desa Timur masih hidup dan kota di Timur jauh dari mampu menyerap kelebihan penduduk pedasaan. Lebih lanjut, untuknya kota ialah dunia lain di mana ia tidak pernah betah; jarak antara kehidupan pedesaan dan perkotaan terlampau jauh.
Kendati hal ini benar untuk massa yang tetap berpegang ke desa, dan tidak memutuskan untuk lari dari tanah, namun tidak cocok untuk perorangan-perongana yang merasa sesak dengan lingkungan pedesaan serta tidak lagi merasa betah hidup di desa. Tukang yang penuh energi dan mampu, anak sekolah yang rajin dan cerdas, barangkali condong untuk pergi ke kota dan mengadu nasib di sana. Tetapi mereka adalah pengecualian mereka yang tidak mempengaruhi gambar keseluruhan.Lebih umum, dan dengan demikian lebih berpengaruh secara mendasar ialah pelarian dari elit desa. Dengan kemelaratan desa dan keruntuhan desa, dengan kenaikan nilai dan sewa tanah, dengan pemusatan administrasi dan peradilan di kota-kota, dengan jaminan keamanan pribadi hanya di kota-kota besar, dengan harapan bahwa di sana seorang dapat menikmati pendapatan dari miliknya sendiri, dengan menghilangkan industri pedesaan, dan pilihan barang-barang yang lebih banyak ditemui di toko dan pasar, dengan kenaikan keinginan-keinginan materiel dan spritual akibat dari pendidikan Barat ___ apakah mengherankan, apabila orang desa yang mampu dan berpendidikan menganggap kediaman mereka yang lama semakin lama sampai pada gejala bangsawan desa, tuan tanah desa, lari dari lingkungan pedesaan mereka. Persis berlawanan dengan apa yang terjadi di negara-negara barat. Di sana, buruh pedesaan, proletariat tak bertanah, dan unsur-unsur semiproletariat lain, berimigrasi ke kota-kota dengan harapan menjumpai pekerjaan yang lebih menguntungkan. Memenangkan kapitalisme dan kebudayaan Barat, elite desa menelantarkan keliling prakapitalisnya. Inilah pengosongan dari desa ke kota.
Di pihak lain, di dalam kota aliran masuk ini menimbulkan kepadatan penduduk jenis baru: yaitu proletariat intelektual.