Rabu, 09 Oktober 2019

Review Buku "Prakapitalisme di Asia". Penulis: Dr. J.H. Boeke 1983

Review Buku "Prakapitalisme di Asia". Penulis: Dr. J.H. Boeke 1983



Hasil gambar untuk buku prakapitalis di asia




Masyarakat Desa Prakapitalis
Werner Sombart dalam buku Modern Capitalism, bahwa para bangsawan memimpin kehidupan feudal tanpa mengerjakan pekerjaan ekonomi apapun, mereka adalah pemimpin perang dan pemburu.Orang-orang awam adalah rakyat dengan sedikit perbedaan kedudukan social, namun memiliki semangat kelompok yang kuat.Hidup diatur secara oragnis, tunduk serta menyesuaikan diri dengan penguasa alam yang mahakuasa.Landasan eksistensi prakapitalistis ialah hemat, ingat, dan istirahat. Gambaran yang diisi dengan perincian, misalnya tentang keterbatasan cakupan kebutuhan individu, karena penyerapan oleh masyarakat, mengakibatkan menundukan kegiatan ekonomi dibawah kegiatan social, candi jauh lebih penting dari pada rumah, prestige lebih diperhitungkan daripada kekayaan, kekuasaan lebih daripada keuntungan.
Keseimbangan yang dijaga dengan ketat bertumpu pada landasan masyarakat prakapitalistis yang stationer. Desa yaitu unit kemasyarakatan prakapitalistis, memiliki kemiripan yang menyolok dengan organism lain. Hokum yang terus menerus berlaku mensyaratkan bahwa: masyarakat desa berarti seluruh masyarakat prakapitalistis, bergantung pada penduduk yang tidak berubah (stasioner). Landasan komunal yang memegang yang memegang para anggota desa dan mengikat mereka ke tanah yaitu pertama memiliki watak keagamaan, kedua pembudidayaan tanaman tertentu hanya melayani kebutuhan produsen serta keluarganya.Ciri-ciri ini menandakan bahwa pertanian dalam desa adalahnuntuk swasembada semata.
Perbedaan antara sikap dianut terhadap milik produktif dengan terhadap untuk konsumsi adalah sangat pencolok.Betapa kecerdikan, ketekunan, keterampilan dan kesabaran dicurahkan untuk membuat hiasan-hiasan, senjata, pakaian, untuk upacara kenegaraan, rumah.Betapa telaten memelihara sapi kerapan, kuda, ayam aduan dan perkutut.tetapi terhadap modal sebagai faktor produksi dan sebagai pengganti tenaga kerja, sikap orang desa tidak bersahabat.

Masyarakat Desa dalam Perbenturan Dengan Kapitalisme
Sulit untuk melukis sebuah dunia yang sangat kecil seperti desa. Dibanyak daerah rata-rata terdiri dari dua puluh sampai lima puluh rumah tangga, di daerah lain mendekati seratus. Sebuah des dengan penghuni seribu seribu orang atau lebih, dalam bahaya terlampau padat dan kehilangan solidaritas komunalnya.Sebuah pemerintah dengan selera kebijakan barat, menganggap uni-unit kecil dan lemah ini kurang dapat dikelola.Jadi, untuk maksud-maksud administratif, kebijakan pembentukan unit-unit baru bisanya berupa mengabungkan sejumlah desa. Sebab, desa ialah masyarakat petani bergenerasi hidup bersama, tumbuh bersamaan dengan desa mereka.sedang wakil-wakil organisasi bercorakbarat, tetap seperti burung-burung yang melintas, orang-orang luar “orang asing”, orang kota.
Terkadang orang orang-orang luar ini bergerombol bersama di sebuah pojok kota, yang kemudian menampilkan ciri-ciri baru: sesuatu yang mirip gardu luar perkotaan. Di pojok ini kita menjumpai balai desa, sekolah, penggilingan beras, toko desa, bank desa, bangunan baru dari koperasi pertanian.Di sini tinggal lurah, guru-guru seolah, tukang-tukang kredit, penjahit serta para tukang modern.Disini adat istiadat desa yang kuno tidak diikuti, bentuk gotong royong tradisional tidak dilakkan, upacara-upacara serta perayaan desa tidak diacuhkan di sini orang menggunakan penanggalan barat untuk menentukan mingggu istirahat dan liburan mereka.disini perekonomian dilandaskan pada uang dan pertukaran.
Di Negara-negara ini, pemerintah tidak memiliki pemahaman atau tanggap rasa terhadap desa, kebijakan ekonomi mencampurinya, sekolah-sekolah mengeritik, para pejabat tidak mengacuhkannya.Lebih lanjut, para pegawai ini, para penguasa barat, merasa diri mereka asing dalam masyarakat desa, dan hal ini sering membawa akibat lanjut yang serius.Pemerintah barat melalui lembaga-lembaganya mengisolasikan perorangan, tua dan muda, dari masyarakat terdekat sampai kelarga dan desa. Pemrintah barat memaksakan padanya dalam segala bentuk organisai impor dari barat sampai organisasi-rganisasi dimana ia tidak merasa betah dan oleh karenanya ia hanya digunakan sebagai orang luar. Pemerintah barat melarang dan menghalangi adat istiadat kemasyarakatan serta keagamaannya.pemerintah barat secara eksklusif hanya bermina pada kegiatan-kegiatan ekonominya.Dan pemerintah barat menekan keinginan-keinginan ekonominya, tanpa mamu menyediakan cara-cara atau memprkuat cara-cara yang telah dimilikinya untuk memenuhi keinginan-keinginan itu. Sebagai hasilnya, persaan frustasi dan kemiskinan terbit dalam perorangan
Dimiskinkan serta di individualismekan, orang-orang desa cenderung untuk mengabakan kepentingan dan kewajiban social mereka. Tanah tidak lagi mampu member cukup makan bagi penduduk yang semakin tumbuh. Di pedesaaan yang terlampau padat di Negara-negara timur,kemiskinan dan kekurangan menyeluruh, bagian terbesar dari pajak yang berat dibebankan ke punggung petani, meskipun sejauh ini ia mendapatkan kesempatan ntuk mencari uang,bagian hail pertanian yang diambil tuan tanah kota dalam bentuk uang semakin naik, karena penciutan tanah milik rata-rata dan menghilangkan industry pedesaaan, petani semakin lama semakin sulit untuk sepenuhnya menggunakan tenaganya dan penganggguran musiman mengalami kenaikan, bebean utang yang dikeluhkan semakin berat, dan dengan sigap menerkam bagian hasil pertaniannya dalam bentuk bunga pinjamann,pengolahan hasl tanah berkesinambungan melebihi batas, mengurangi kesuburannya dan mengakibatkan gagal panen lebih sering erjadi.karena kurang diberi makan, ternak merosot atau harus diabaikan.ikatan keluarga terlepaskan oleh pendidika barat,kerja di pabrik dan dinas militer.
Keadan ini berbeda secara radikal dengan pikiran yang ada dinegara-negara barat, dimana dualism antara kta dngan desa memiliki konsekuensi-konsekuensi yang penting. Hal ini akan Nampak seandainya kita meneliti sepuluh aspek yang berbeda dari dualism.
1. Sejauh menyangkut suplai tenaga kerja, industry perkotaan tidak tergantung pada proletariat kota yang telah meninggakan desa untuk selamanya, dan menancapkan akar di pusat-pusat perkotaan.
2. Pengangguran yang timbul dari fluktuadi-fluktuasi permintaaan produk-produk industry tidak menciptakan maslahkepadatan penduduk perkotaaan, tetapi suatau maslah untuk desa ,hakikatnya maslah agraria.
3. Dinegara oriental ini tidak terdapat “pasukan cadangan industry” tetapi “pasukan cadangan agrarian”, suatu proletariat atau semiproletariat pedesaaan, berifat prakapitalis, tradisional dan mandek, belum matang untuk organisasi modern. Suatu pasukan cadangan yang memberati kedudukan petani dengan kelaparan tanah da memberati buruh tani dengan standar kehidupan yng rendah.
4. Pada mulanya tanpak kecenderungan industri untuk menyebar, perusahaan-perusahaan berukuran kecil dan menengah berusaha memperluas kesempatan dengan menetap dan hidup dari pedesaan.
5. Tingkat upah buruh industri ditekan oleh kenyataan bahwa upah industri kerap kali hanya merupakan pendapatan tambahan melengkapi pendapatan keluarga petani kecil.
6. Di Negara-negara kapitalis yang homogen, kepentingan-kepentingan para pemilik tanah biasanya berlawanan dengan para majikan industri.
7. Kecondongan penduduk pedesaan untuk bermigrasi sangat lemah. Dengan demikian, hampir seluruh migrasi bersifat sementara dan tidak berkembang menjadi kolonialisme (transmigrasi) daerah-daerah asing.
8. Secara umum dapat dikatakan bahwa buruh sebagai sebuah faktor produksi, memiliki mobilitas yang lamban. Dengan demikian terdapat perbedaan upah yang mencolok tanpa ada yang diratakan. Industri-industri yang ada di pedesaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi mampu mengunakan kelebihan “tangan-tangan” secara tidak terbatas.
9. Terdapat jarak yang jauh antara pertukaran kapitalis barat dengan rumah tangga keluarga kapitalistis, karena kurangnya daya beli di pasar dalam negeri hingga membuat pertukaran itu bergantung pada pasar dunia. Jadi, bersifat internasional dan terpusat pada perusahaan-perusahaan impor dan ekspor barat.
10. Akibat lanjut depresi maupun deflasi menimpa punggung petani. Dalam masyarakat dimana proletariatkota menyediakan buruh dan petani menyediakan bahan makanan, depresi membawa pengaruh penurunan upah serta pengangguran para penerima upah. Tetapi pada saat yang sama menurunkan biaya hidup.
Apabila kejadian tersebut terjadi di Negara “kolonial” mungkin akan diikuti oleh tahap keempat: tahap yang ditandai oleh campur tangan pemerintah yang kawatir akan keresahan kaum tani dan menghalangi para tengkulak untuk mengerahkan daya peras ekonomi mereka sampai tuntas. Namun dinegara seperti cina, yang lebih mungkin terjadi ialah para penguasa bersekutu dengan tengkulak.

Masalah Penduduk
Dinegara-negara barat kepadatan penduduk merupakan suatu unsure yang berubah berkaitan dengan pertumbuhan kota-kota industry perkotaan yang pada gilirannya bergantung pad produktivitas pertanian. Dinegara-negara itu gejalanya ditandai denagn kekurangan penduduk di pedusunan diamana tenaga pertanian digantikan oleh mesin.Umumnya dikbupaten-kabupaten Negara Timur, selama berabad-abad kepadatan penduduk ini hamper merupakan kuantitas yang stabil. Kepadatan ini ditentukan oleh kesuburan tanah oeh intensitas dan produktivitas bentuk pengarapan tanah yang digunakan,oleh kesempatan memperolaeh pendapatan dari sumber-sumber nonpertanian, oleh standard hidup an tidak kalah penting oleh ukuran bagian kerja petani yang diminta oleh tuan tanah beserta para pembantunya rentenir serta pemerintah.
Pada mulanya standard hidup tidak lebih tinggi dari sekarang.tidak pula lebih rendah. Benar, terdapat berbagai jenis larangan, tidak pula lebih rendah.Seperti telah dinyataka sebelumnya pertanian petani oriental berlandaskan pada keluaraga, dan ditujukan unutk mendukungnya.Apabila penduduk terutama tergantung paa pertanian, kepadatannya sanagt terkait denagn jumlah keperluan lahan garapan setiap keluarga unutk maksud tertentu.Ini sebabnya apabila tidak terdapat perubahan yang muncul dalam landasan dan tujua kepadatan penduduk yang merupakan resultant tetap stationer pula.
Di lai pihak, perkembangan penduduk dengan kepadatan yang tidak terlampau berubah, telah mengharuskan penggarapan tanah-tanah yang kurang subur atau tanah-tanah yang oleh sebab lain menjadi kurang produktif dan menuntun kearah pengurangan kesuburan tanah-tanah yang telah lama digarap denagn demikian penggarapan yang lebih intensif belum tentu menaikkan output yang sebanding.
Dan bagaimana denagn standard hidup?tidak dapat disangkal standard hidup berubah tetapi tidak harus berubah kearah yang leih baik. Pengaruh kapitalistis Barat telah beropeasi disini unytk memperosotkan bukannya menaikan standar-standar kualitatif. Mungkin benar keinginan-keinginan telah semakin luas dan beraneka , namun benar pula bahwa barang-barang yang dibutuhkan untk memuaskan keinginan-keingina ini dalam ukuran luas telah merosot untuk konsumen oriental.
Ketrgantungan pasar untuk memuaskan keinginan-keinginan seorang, berrarti pula ketergantungan pada kebutuhan orang lain atas barang-barang atau jasa-jasa yang dapat ditawarkannya dan pertanyaannya tetap apakah keinginan orng lain cukup kuat untuk menjamin penyaluran yang menguntungkan bagi hasil produksi petani. Hasil produksi yang pilihannya terutama tidak menurut nilai pasar. Dengan mempertimabangkan segalannya harus disimpulakan, bukanlah standard hidup penduduk pedesaan Asia Timur maupun produktivitas tenaga kerjannya yang telah berubah.
Kesimpulan menurut nalar ini diperkuat oleh fakta-fakta yang telah terkenal.Data kesejarahan menunjukkan bahwa berabad-abad lalu, petani Timur tidak menggarap tanah milik yang lebih luas. Pada waktu itu kawasan garapan yang sama harus menunjang jumlah jiwa yang hamper sama. Teapi sekarang dibawah kapitalisme telah terjadi perubahan yang tidak menguntungkan keadaan. Semua ini berarti, telah tercipta suatu seper struktur yang maha besar dan harus dirawat oleh petani petani dengan kerja kerasnya, meskipun kerja ini kuan produktif sehingga jarang menyisakan surplusdiluar keswasembadaannya sendiri.Superstruktur ini membentuk dan mengisi bgian penting dari kota-kota besar oriental.
Kenaikan jumla penduduk mungkin memperbesar kepadatan pedesaan.Namun tidak harus selalu demikian daerah-daerah pedesaan terdapat letak dikawasan –kawasan subur dengan tanah yang memperoleh irigasi apabila dikawasan tetangga terdapat kawasan subur lainnya, penduduk mungkin menyebar dikawasan itu.Namun tingat penduduk yang stationer ini menjaga dirinya dengan perluasan dengan perluasan dan penciutan yang silih berganti terus menerus dan tidak teratur.Kurva (liku-liku perkembangan) penduduk mirip gambar sebuah pegunungan dengan bukti-bukti terjal dan jurang-jurang yang dalam.
Semua kendali penekanan yang disebut Malthus dalam bukunya Essay on the principle of population kelaparan, wabah, perang, kejahatan, bencana alam megamuk didalam Negara-negara oriental , apabila dan selama mereka dibebaskan. Malthus menyebutnya kendali-kendali penekanan (repressive checks) sejauh mereka tidak menyentuh gairah seksual yang menyebabkan kenaikan penduduk dan sekedar melawan hasilnya mahluk hidup dilahirkan atau tidak. Hanya kapitalisme yang menambah kendali dengan sebuah kendali pencegah yang setidak-tidaknya sama pentingnya.
Dipihak lain, perlawanan terhadap kendali penekanan kenaikan penduduk telah dilaksanakan oleh pemerintah-pemerintah berpikiran Barat dinegara-negara oriental, seenergik dan seefektif seperi yang dilakukan di Eropa. Dan meskipun karena kurangnya pengetahuan serta kerja sama rkayat, hasil-hasilnya tidak seajaib di Eropa, namun kebijakan kesehatan masyarakat, keamanan dalam negeri, langkah-langkah mencegah kejahatan dan kelaparan,telah berpengaruh pda tingkat kematian penduduk.
Lebih penting dari transmigrasi perpindahan penduduk, industrialisasi, irigasi, penataran, pertanian dan sebagainya ialah gejala-gejala diantara rakyat sendiri yang berupa berkembangannya kesadaran tanggung jawab mereka untuk menyelasikan masalah penduduk. Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa bentuk-bentuk pembatasan kelahiran yang prakapitalistis,pengguguran dan pembunuhan bayi, meluas kembali khusunya pengangguran hari ini dilakukan secara menyeluruh dibagian dunia itu. Dalam hal ini tingkah laku pemerintah-pemerintah masih ragu-ragu.
Masyarakat desa prakapitalistis membutuhkan batas yang longgar dari cara-cara menunjang hidup, karena selalu terdapat oran-orang yang tidak aktif dengan cara yang produktif , bukan hanya anak-anak dan orang jompo yang cacat dan miskin, yang secara social tidak cocok dan yang gagal, melainkan pula serombongan pengemis, gelandangan, fakir, rahib dan pendeta mereka yang butuh bersadar ke masyarakat desa karena mereka adalah bagiannya, dan mereka hidup didesa. Walupun lambat dan tidak disadari dengan adanya penciutan penguasaan tanah rata-rata seta kemerosotan kerajinan tangan, proporsi waktu yang dicurahkan unutk kegiatan aktif menyusut.Dalam setiap kejadain, bagian penduduk desa yang aktif trlapau banyak menganggur dan siap untuk menganggur.jadian, bagian penduduk desa yang aktif terlampau banyak menganggur dan siap untuk menganggur.
Tetapi konsepsi prakapitalistis tentang hidup mulia ini, merupakan hasil jadi dari prasyarat adanya kesnggangan tertentu dalam persaingan kebutuhan-kabutuhan hidup yang utama.Dengan demikian, adalah tidak tepat apabila menggunakan pengangguran sebagai semata-mata ukuran kepenuhsesakan setempat.Sejak sekitar tahun 1800, ketika penduduk Jawa belum mencapai seperdua puluh ukuran kelak kemudian (1948), seorang penguasa menyatakan bahwa pulau ini dipadati para panganggur.Kehidupan desa menghendaki para penganggur ini tampil sepenuh mungkin, sebagaimana pula para penganggur menghendaki agar desa menjalankan jalan hidup mereka.
Jadi, hanya satu kesimpulan yang mungkin: kepadatan penduduk adalah masalah komunal yang dapat dikatakan ada segera setelah desa tidak lagi mampu hidup menurut prinsip-prinsip prakapitalisnya yang khusus. Kepadatan tersebut telah ada sejak dulu, lama sebelum pemerintah-pemerintah Barat menyadari eksistensinya, dan mencoba melawannya dengan cara-cara Barat.
Di negara-neara kapitalistis Barat, pengangguran utamanya merupakan gejala perkotaan.Di sini pelarian dari tanah telah membebaskan desa dari kelebihan penduduk, dan menaikkan produktivitas tenaga kerja pertanian.Sebaliknya, di negara-negara prakapitalistis, tidak ada pernyataan tentang meninggalkan tanah.Hal ini di barat dikondisikan dengan penerimaan semangat kapitalisme berikut individualismenya, rasionalisme, kenaikan keinginan-keinginan dan pengejaran hasil oleh penduduk pedesaan.Pertama kehidupan desa tradisional harus ditaklukkan. Namun, kota pun harus memiliki sesuatu yang ditawarkan pada pendatang baru dari desa: hidup yang lebih bebas dan baik. Dalam kedua aspek, Timur berbeda dengan barat. Desa Timur masih hidup dan kota di Timur jauh dari mampu menyerap kelebihan penduduk pedasaan. Lebih lanjut, untuknya kota ialah dunia lain di mana ia tidak pernah betah; jarak antara kehidupan pedesaan dan perkotaan terlampau jauh.
Kendati hal ini benar untuk massa yang tetap berpegang ke desa, dan tidak memutuskan untuk lari dari tanah, namun tidak cocok untuk perorangan-perongana yang merasa sesak dengan lingkungan pedesaan serta tidak lagi merasa betah hidup di desa. Tukang yang penuh energi dan mampu, anak sekolah yang rajin dan cerdas, barangkali condong untuk pergi ke kota dan mengadu nasib di sana. Tetapi mereka adalah pengecualian mereka yang tidak mempengaruhi gambar keseluruhan.Lebih umum, dan dengan demikian lebih berpengaruh secara mendasar ialah pelarian dari elit desa. Dengan kemelaratan desa dan keruntuhan desa, dengan kenaikan nilai dan sewa tanah, dengan pemusatan administrasi dan peradilan di kota-kota, dengan jaminan keamanan pribadi hanya di kota-kota besar, dengan harapan bahwa di sana seorang dapat menikmati pendapatan dari miliknya sendiri, dengan menghilangkan industri pedesaan, dan pilihan barang-barang yang lebih banyak ditemui di toko dan pasar, dengan kenaikan keinginan-keinginan materiel dan spritual akibat dari pendidikan Barat ___ apakah mengherankan, apabila orang desa yang mampu dan berpendidikan menganggap kediaman mereka yang lama semakin lama sampai pada gejala bangsawan desa, tuan tanah desa, lari dari lingkungan pedesaan mereka. Persis berlawanan dengan apa yang terjadi di negara-negara barat. Di sana, buruh pedesaan, proletariat tak bertanah, dan unsur-unsur semiproletariat lain, berimigrasi ke kota-kota dengan harapan menjumpai pekerjaan yang lebih menguntungkan. Memenangkan kapitalisme dan kebudayaan Barat, elite desa menelantarkan keliling prakapitalisnya. Inilah pengosongan dari desa ke kota.
Di pihak lain, di dalam kota aliran masuk ini menimbulkan kepadatan penduduk jenis baru: yaitu proletariat intelektual.
























Tidak ada komentar:

Posting Komentar